Sendratari Ramayana “Shinta Obong”

13240519_10207400652787895_8714396141084011092_n-1

Sendratari Ramayana “Shinta Obong”

Ketika menonton Sendratari Ramayana “ Shinta Obong”
Minggu, 22 Mei 2016 – Rumah Puspo
(Sebuah Kajian Subyektif)
“Wadah Indikator Pendidikan Karakter Pada Anak”

Adegan pambuko – introduction Anoman seekor monyet kecil sakti sanggup memporak porandakan Alengka, Rahwana buruk rupa si penculik yang kejam, Rama yang berwibawa tapi ragu akan nuraninya sebagai suami, Shinta yang kecewa kesetiaannya dipandang sebelah mata. Kijang yang cantik rupawan ternyata adalah sang utusan Rahwanan, Kumbokarno kakak Rahwana, berwujud raksasa tetapi berhati mulia serta banyak yang lain.

Satu kemasan pertunjukan yang menarik dan jelas alurnya. Tatanan peradegannya sangat kuat, hingga mampu menonjolkan karakteristik dari masing masing tokohnya.

Kursi yang disediakan tampak penuh oleh pengunjung yang rata-rata usianya adalah usia dewasa sampai dengan usia lanjut. Dari mulai meja bundar sampai kursi ber sab, tumplek blek dan tak ada kursi kosong.

Lalu dimana penonton anak anak kita?Ada,
Akan tetapi dari sisi jumlah kalah berbanding dengan penonton dewasa. Bisa jadi karena jam pertunjukan yang terlampau malam, ataupun nilai yang terlanjur menancap di kepala masyarakat kita, bahwa tontonan malam adalah khusus untuk dewasa. Mengapa sendratari Ramayana selalu digelar pada malam hari?.

Sendratari tadi malam tanpa disadari sesungguhnya telah menjadi wadah indikator bagaimana sebuah pendidikan karakter terhadap anak berproses. Anak dapat belajar untuk tidak terpengaruh dengan rupa yang cantik, jangan mudah percaya dengan yang kasat mata. Bagaimana mempertahankan komitmen sampai dengan unjuk kesetiaan. Plus berani tampil dan berpentas.
Seperti yang dikatakan oleh Sonny Vinn seorang penulis buku best seller “SLAM DUNK For SUCCESS”) “Karakter seorang anak terbentuk terutama pada saat dia berusia 3 hingga 10 tahun……apa yang masuk di dalam pikirannya bisa membentuk karakter anak yang berkualitas”.

Iseng terlintas, berangan angan, bermimpi, kepengen, sebagai sesuatu yang ideal, satu saat Puspo Budoyo dapat mementaskan pertunjukan di sore hari, satu paradigma baru – pola baru, sebuah “ Sunset Ramayana”. Sendratari yang ditonton oleh anak, di mengerti anak, di pentaskan untuk anak dan khusus sesi untuk anak (biasanya kalau anak pasti ada orang tuanya). Yang merupakan sisi lain dari Sendratari Ramayana di bawah bulan purnama.

Bravo Puspo,
Apapun itu Puspo Budoyo telah mengupayakan sebuah substansi pendidikan kesenian yang baik yang berguna untuk memanusiakan manusia.

#######

~ by antiyank on May 29, 2016.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: