WEBISODES DALAM TATANAN MASYARAKAT

Perkembangan media tak pernah terlepas dari perkembangan masyarakat, merupakan sebuah hubungan timbal balik antara media dan masyarakat dimana masyarakat membentuk media dan sebaliknya media membentuk masyarakat.

Berlalunya sang waktu yang diiringi dengan pertumbuhan jumlah penduduk dan berkurangnya sumber daya alam merupakan landasan pokok dari perkembangan peradaban dunia hingga hari ini yang disebut sebagai era informasi.

timeline_diagram

Seperti tergambar dalam diagram di atas,
‣ Garis membujur dari kiri ke kanan di tengah merupakan garis berlalunya waktu, namun
tidak berlaku skala perbandingan panjangnya waktu dari era ke era.
‣ Garis kurva merah membujur dari kiri ke kanan yang naik ke atas menggambarkan
pertumbuhan penduduk dunia.
‣ Garis kurva biru membujur dari kiri ke kanan yang turun ke bawah menggambarkan
pengurangan sumber daya alam.
‣ Panah ganda vertikal yang menghubungkan kedua kurva pertumbuhan penduduk dan
pengurangan sumber daya alam menggambarkan hubungan antar manusia yang semakin
tipis oleh karena desakan hidup.
‣ Anak panah membujur dari kiri ke kanan merupakan gambaran aspirasi masyarakat yang tertuju kepada modernitas dan gaya hidup kota besar.
‣ Kotak-kotak gradasi abu-abu merupakan sebuah gambaran yang mewakili tiga era:
‣ Yang pertama, yakni kotak paling kiri mewakili era pertanian yang telah berlangsung
selama ribuan tahun. Dalam era ini masyarakatnya adalah masyarakat kolektif yang
mana hubungan personal antar manusia masih sangat tinggi. Tekanan kebersamaan
yang kolektif merupakan hal pokok yang mengatur seluruh tatanan peradaban. Pada era ini, sumber daya alam masih amat melimpah sehingga desakan hidup antar manusia
masih cukup ringan.
‣ Yang kedua, yakni kotak bagian tengah mewakili era industri yang telah berlangsung
selama beberapa ratus tahun. Dalam era ini masyarakatnya adalah masyarakat yang
terkotak-kotak dalam ‘cluster’ industri masing-masing, dan di era ini pulalah mulai
tumbuh profesi yang terkotak-kotak. Ketika memasuki era industri, komunikasi di dalam
masyarakat mulai dilembagakan dalam bentuk media-media massa yang dianggap lebih
bisa dipercaya daripada sekedar pernyataan dari mulut ke mulut. Dalam era ini, sumber
daya alam sudah mulai berkurang sehingga desakan hidup antar manusia semakin
tinggi. Pada era ini pulalah bangsa-bangsa Eropa yang miskin sumber daya alam mulai
melakukan ekspansi dalam bentuk kolonialisasi ke benua Asia, Amerika Selatan dan
Afrika.
‣ Yang ketiga, yakni kotak bagian sebelah kanan mewakili era informasi yang baru dimulai di akhir abad ke 20, tepatnya sekitar tahun 1980an. Dalam era ini masyarakatnya sudah mulai menjadi masyarakat individualistik akibat besarnya desakan hidup oleh
menipisnya sisa sumber daya alam. Masyarakat individualistik ini semakin didorong oleh
perkembangan teknologi yang memberikan keleluasaan tiap individu untuk menentukan
pilihan sesuka selera masing-masing. Profesi di era ini sudah mengarah kepada spesialisasi dan bahkan menjadi super spesialis. Komunikasi di era ini adalah hal utama,
sayangnya hanya sebatas permukaan saja. Berbagai media baru tumbuh, mulai dari
internet web sampai dengan telepon selular yang sekarang fungsinya sudah hampir
menggantikan sebuah komputer mikro sekaligus pemutar berbagai media.

Apabila kita melihat ketiga era yang digambarkan sebagai sesuatu kehidupan yang nyata, memang pada kenyataannya perkembangan peradaban dunia adalah demikian. Namun sesungguhnya ketiga era di atas lebih mengacu kepada pola pikir manusia yang hidup di jaman ini, khususnya di negeri kita Indonesia. Petani, tukang beca, tukang ojeg sampai pedagang pasar adalah mewakili masyarakat yang masih berpola pikir era pertanian. Sementara pekerja profesi mulai dari buruh pabrik sampai kepada manager perusahaan adalah mewakili pola pikir era industri, mereka terkotak-kotak oleh profesinya. Generasi muda khususnya yang datang dari kalangan ekonomi menengah ke atas yang sempat mengenyam pendidikan di luar negeri lah yang membawa era informasi ke negeri ini. Masyarakat Indonesia saat ini merupakan komposisi dari manusia-manusia yang memiliki pola pikir ketiga era tersebut, hidup berdampingan dan menjalin hubungan antar manusia dengan normal.

Pada dasarnya, masyarakat seluruh dunia berangkat dari masyarakat petani dan pemburu yang sebenarnya memiliki pola pikir yang serupa. Ketika sebuah masyarakat beranjak dari masyarakat pertanian menjadi masyarakat industri, diperlukan infrastruktur yang menunjang berjalannya proses industrialisasi, tanpa infrastruktur sudah barang tentu mustahil untuk mencapai negara industri sepenuhnya. Sampai hari ini pun, infrastruktur industri di negeri Indonesia masih jauh dari memadai. Sebagai contoh, Indonesia sebagai negara yang kaya akan sumber daya alam yang indah, namun karena minimnya prasarana infrastruktur transportasi, maka industri pariwisata masih terseok-seok.

Ketika dunia memasuki era globalisasi, sebuah era dimana sumber daya terbaik tidak lagi dibatasi oleh wilayah geografis melainkan dibatasi oleh nilai-nilai ekonomis, apaboleh buat Indonesia harus mengadopsi teknologi digital mulai dari sistem keuangan terpadu sampai dengan teknologi komunikasi dan internet. Sayang sekali, komitmen pemerintah dalam pembangunan infrastruktur tidaklah terpadu, bahkan melepaskan kesempatan investasi kepada pihak swasta yang tentunya lebih berorientasi kepada motif ekonomi ketimbang mengambil peranan dalam pembangunan bangsa.

Pertumbuhan media di Indonesia amatlah beragam, dan yang menarik adalah masyarakat yang sebagian besar masih berpola pikir konservatif seperti di era pertanian sudah dijejali teknologi selular sebagai bagian dari gaya hidup yang teraspirasi oleh modernitas dan kota besar. Masyarakat yang masih belum seratus persen melek huruf dipaksa untuk mengadopsi teknologi yang berbasis bahasa tulisan ataupun yang mensyaratkan penggunaan bahasa tulisan sebagai panduan penggunaan, semata demi sebuah status ‘modern’. Sebuah fakta ironis ketika di kalangan terpelajar terdesak untuk mengikuti perkembangan pengetahuan dunia melalui berbagai media elektronik termasuk internet, infrastuktur energi listrik masih saja byar-pet alias tidak selalu menyala kapan saja ketika dibutuhkan. Jangankan koneksi internet pita lebar, koneksi internet pita sempit pun masih sulit didapatkan dan cukup mahal.

Ketika kita masuk ke dalam dunia maya yang dalam sekejab menghubungkan kita dengan dunia luar tanpa batasan wilayah geografis lagi, kita serasa dimanja untuk bisa menentukan pilihan sesuai dengan selera kita masing-masing. Inilah yang disebut sebagai ‘mass customization’, sebuah upaya para pemutar roda ekonomi untuk menggalang konsumerisme. Sebuah langkah besar yang membentuk masyarakat individualistik serta sebuah jebakan besar menuju komunikasi ‘superficial’ yang secara perlahan merantaskan benang-benang hubungan personal antar manusia.

Indonesia, sebuah negara yang kaya akan sumber daya alam tapi miskin dalam hal pendidikan, pemerataan pengetahuan dan keterpelajaran. Masyarakat yang sebagian besar adalah petani yang bergantung pada faktor alam, memiliki pola pikir era pertanian dengan tekanan kolektif yang cukup besar. Masyarakat yang mengadopsi berbagai modernisasi dari berbagai negara maju di sebelah barat belahan dunia, menelan mentah-mentah lalu mengalihfungsikan sebagai lambang status sosial.

Ketika kita sampai pada sebuah pertanyaan apakah trend baru media online digital yang disebut dengan webisode bisa tumbuh dan berkembang di negri ini, lalu apakah hal ini bisa menjadi lahan baru bagi pelaku bisnis media di Indonesia? Mungkin jawabnya yang pertama adalah sebuah pertanyaan tentang sejauh manakah ketersediaan jaringan infrastruktur internet pita lebar bisa menjangkau masyarakat luas. Mungkin jawaban yang kedua juga masih berupa sebuah pertanyaan tentang sejauh manakah masyarakat kita memandang media teknologi digital sebagai sesuatu yang bermanfaat dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, bukan sebuah ancaman. Dan jawaban yang terakhir adalah sebuah pertanyaan tentang kesiapan masyarakat kita untuk berpacu dengan kemajuan dunia…

R. Aj. Agustina Rochyanti ( Anti )

Nirm 1080151127

~ by antiyank on March 8, 2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: